ads

.

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Ancam Buka Pintu Pesawat Ketika Mengudara, Pria Ini Ditangkap



BELGRADE – Seorang pria yang jadi penumpang pesawat komersial milik Maskapai Lufthansa dilaporkan telah mengancam keselamatan seluruh orang di pesawat, setelah dirinya mencoba untuk membuka paksa pintu kabin pesawat itu ketika sedang mengudara.

Awalnya, pesawat milik Maskapai Lufthansa dengan rute perjalanan Frankfurt (Jerman) – Belgrade (Serbia) itu dalam keadaan aman saat mengudara. Namun di tengah perjalanan, tiba-tiba saja seorang pria berdiri dan mencoba untuk membuka pintu ruang kokpit pesawat.

Pria itu kemudian berteriak mengancam untuk membuka pintu kabin pesawat secara paksa, yang langsung membuat panik seluruh kru maupun penumpang lain di pesawat itu.

“Seorang penumpang tiba-tiba saja berdiri dan berteriak-teriak sambil mencoba membuka pintu ruang kokpit pesawat. Ia kemudian mencoba untuk membuka paksa pintu kabin pesawat,” ujar Juru Bicara Maskapai Lufthansa, Andreas Bartels, seperti dilansir dari AFP, Senin (7/12/2015).

“Seketika itu juga hal itu membuat panik penumpang lain dan kru pesawat. Namun, pada akhirnya aksi pria tersebut dapat dihentikan kru pesawat yang dibantu beberapa penumpang, termasuk anggota Timnas Handball Serbia,” sambungnya.

Bartels menambahkan, pria itu akhirnya dapat ditahan sementara setelah para kru pesawat mengikatnya menggunakan sabuk pengaman di bangku kabin pesawat.

“Pada akhirnya, perjalanan kami dari Frankfurt menuju Belgrade kembali aman. Seluruh penumpang dan kru pun dapat mendarat dengan selamat di Serbia,” ucap Bartels.

“Setelah kami tiba di Bandara Belgrade, pria yang menebar ancaman di pesawat tadi langsung ditangkap Kepolisian Serbia untuk diamankan. Kepolisian Serbia kemudian melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait aksi pria tersebut,” lanjutnya.

Setelah diselidiki Kepolisian Serbia, ternyata pria yang menebar ancaman di pesawat Lufthansa itu merupakan seorang warga Yordania. Hingga kini, Kepolisian Serbia masih menyelidiki motif pria Yordania tersebut yang menebar ancaman di pesawat.

Mantan CIA Ungkap Rencana Pakistan Jatuhkan Nuklir di India


WASHINGTON DC – Mantan pejabat Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA), Bruce Riedel, baru-baru ini mengungkap bahwa Pemerintah Pakistan pernah berencana untuk menjatuhkan bom nuklir di India dalam Perang Kargil yang berlangsung pada 1999.

Rencana itu sebenarnya sudah mulai terungkap ketika Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif pergi ke AS dan meminta bantuan Presiden AS ketika itu, Bill Clinton, untuk mengakhiri Perang Kargil dengan India.

“Dalam tulisan berjudul ‘The Morning of The Fourth-4 July 1999’, Badan Intelijen AS menulis semua catatan rahasianya yang menyatakan bahwa Pakistan sedang mempersiapkan senjata nuklir untuk kemungkinan digunakan dalam Perang Kargil,” ujar Riedel, seperti dikutip IB Times, Sabtu (5/12/2015).

“Saya baru mengungkap hal ini ketika membuat obitarium Sandy Berger, yang merupakan penasihat keamanan nasional Bill Clinton ketika menjabat sebagai presiden AS,” sambungnya.

Perang Kargil merupakan konflik bersenjata antara Pemerintah India dan Pakistan yang terjadi pada Mei hingga Juli 1999 di Distrik Kargil, Kashmir. Penyebab perang itu adalah masuknya pasukan Pakistan dan militan Kashmir ke wilayah India yang merupakan perbatasan de facto, antara kedua negara.

Setelah perang itu terjadi, Pemerintah Pakistan justru menyalahkan pertempuran itu sepenuhnya terhadap pemberontak Kashmir.

Pada akhirnya, Angkatan Bersenjata India yang didukung oleh bantuan diplomatik internasional berhasil memaksa mundur pasukan Pakistan ketika itu.

Terus-Terusan Dirudal Jet Tempur, ISIS Eksekusi Mata-Mata Rusia


MOSKOW – Akibat seringnya dibombardir oleh serangan udara jet-jet tempur Rusia, kelompok militan ISIS baru-baru ini merilis sebuah video eksekusi seorang sandera yang diyakini merupakan mata-mata Rusia di Suriah.

Sebagaimana dikutip The Independent, Kamis (3/12/2015), kelompok ISIS merilis video itu melalui media sosial simpatisannya. Dalam video tersebut, terlihat seseorang yang posisinya akan dieksekusi. Orang itu terdengar menggunakan Bahasa Rusia.

Dalam video itu, sandera ISIS tersebut mengaku merupakan warga Chechnya bernama Magomed Khasayev.

Khasayev mengaku telah dikirim oleh badan intelijen Rusia untuk memata-matai wilayah-wilayah yang dijajah ISIS.

Beberapa menit setelah video pengakuan itu, gambar beralih pada seorang militan ISIS yang siap untuk mengeksekusi Khasayev yang diyakini sebagai mata-mata dari intel Rusia itu.

Seorang militan ISIS itu kemudian berbicara bahwa tindakan eksekusi mati itu dilakukan untuk membalas gempuran serangan udara dari jet-jet tempur Rusia

Sebagaimana diberitakan, sejak 30 September Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan telah melancarkan serangan udara pertama ke basis militer ISIS di Suriah.

Serangan itu dilancarkan setelah Presiden Vladimir Putin mendapat dukungan dari Parlemen Rusia untuk menggelar operasi militer guna memerangi ISIS dan merespons pembicaraan dengan Obama di Sidang Majelis Umum PBB.

Sebelumnya, Rusia dituding oleh AS melancarkan operasi militer untuk memerangi pemberontak Suriah didikan AS dan melindungi Presiden Suriah Bashar al Assad. Namun Rusia menegaskan bahwa operasi militer yang dilakukannya adalah untuk memerangi ISIS.

Kendati demikian, sejumlah serangan yang dilakukan jet tempur Rusia dikabarkan justru mengarah ke wilayah yang dimiliki oleh kelompok pemberontak dan berujung pada tewasnya warga sipil Suriah.

Hujan Berlian Hebohkan Warga Hong Kong



HONG KONG – Hujan berlian mendadak hebohkan warga Hong Kong, yang terlihat berusaha memperebutkan batu mulia itu.

Pada Rabu 25 November 2015, terlihat puluhan warga Hong Kong memperebutkan berlian yang mendadak tersebar di pinggir jalan Hong Kong. Pada pukul 20.40 waktu setempat, benda kecil yang mengkilap mendadak jatuh dari langit di jalan Nathan, Tsim Sha Tsui, Hongkong.

Salah satu pejalan kaki berjenis kelamin perempuan, mendadak berteriak ‘berlian’, menggunakan bahasa Mandarin, sebagaimana dilansir dari Shanghaiist, Minggu (29/11/2015).

Mendadak lebih dari 50 orang berusaha mengumpulkan ‘berlian’ itu, hingga polisi terpaksa membubarkan kumpulan warga tersebut. Tidak lama pihak berwajib mengungkap bahwa benda tersebut bukanlah berlian namun berlian imitasi atau lebih dikenal dengan nama rhinestone.

Juru bicara kepolisian mengatakan bahwa benda tersebut memang menyerupai berlian, apalagi terlihat mengkilat karena lampu jalan, namun sayangnya benda tersebut tidak berharga mahal seperti berlian sungguhan.

Berlian imitasi ini dicurigai dijatuhkan dari salah satu gedung tinggi di dekat jalan tersebut, namun hingga saat ini tidak diketahui motif dari aksi ini, apakah ada orang sengaja yang menjatuhkan atau memang tidak sengaja jatuh.

Media Turki Bantah Foto Putra Erdogan dengan Pimpinan ISIS



ANKARA – Media Turki, Daily Sabah menuduh media Rusia melakukan manipulasi bukti keterlibatan putra Presiden Recep Tayip Erdogan dengan kelompok militan ISIS.

Dalam sebuah laporannya, Russia Today menampilkan sebuah foto yang menampilkan putra Erdogan, Bilal, dengan beberapa orang berjanggut tebal yang mereka sebut sebagai pimpinan ISIS. Foto itu berasal dari akun Twitter @Dilxazsofi dengan keterangan Putra Recep Tayip Erdogan ‘BILAL ERDOGAN’ dengan saudara-saudara ISIS-nya.

Namun, foto tersebut ternyata merupakan foto Bilal dengan pemilik restoran terkenal di Istanbul, Turki, yang bernama Cigerstan yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengan ISIS.

“Foto tersebut menampilkan para pemilik yang berjanggut (sebagaimana banyak Muslim lainnya) beredar di media sosial Turki, namun berubah menjadi guyonan, karena pemiliknya tidak memiliki hubungan dengan ISIS,” demikian laporan dari Daily Sabah, Sabtu (28/11/2015).

Bilal juga membantah kabar itu dan mengatakan bahwa pemilik restoran ingin berfoto dengannya seperti berfoto dengan tamu terkenal lainnya.

Putra Presiden Turki itu dicurigai memiliki hubungan bisnis penjualan minyak mentah ilegal dengan ISIS melalui perusahaan ekspedisi maritimnya BMZ. Moskow bahkan menuduh Pemerintah Turki ikut terlibat dalam bisnis haram tersebut.

Hal ini membuat berang Presiden Erdogan yang menuntut Rusia membuktikan tuduhan tersebut. Dia bahkan menuduh balik Rusia dan ISIS melakukan perdagangan minyak dengan ISIS.

“Turki tidak membeli minyak dari Daesh (sebutan lain ISIS). Bendahara Amerika Serikat (AS) mendokumentasikan Rusia dan ISIS menjual minyak pada rezim Suriah,” tudingnya

Namai Butiknya 'ISIS', Pengusaha China Diinterogasi Polisi



SHENZHEN – Sebuah butik pakaian di Kota Shenzhen, China, diketahui diberi nama ‘ISIS’. Hal itu ternyata menarik perhatian seluruh elemen masyarakat di sana, termasuk pihak kepolisian.

Seperti dilansir dari Shanghaiist, Jumat (27/11/2015), pihak Kepolisian China pada akhirnya terpaksa menginterogasi sang pemilik butik yang bernama Chen Hong.

Meski demikian, pihak Kepolisian China ternyata tidak menemukan keterkaitan antara bos butik pakaian itu dengan kelompok militan ISIS, setelah melakukan interogasi.

Pemilik butik pakaian ‘ISIS’, Chen Hong, kepada polisi menjelaskan bahwa kata ‘ISIS’ itu berasal dari istilah China Mandarin, yaitu ‘yisi-yisi’. Menurutnya, istilah itu untuk menjelaskan bahwa butiknya selalu menghadirkan hadiah sebagai balasan pada para pelanggan yang loyal.

Sebagaimana diketahui, sama halnya dengan negara-negara lain, Pemerintah China bersumpah untuk membawa kelompok ISIS ke pengadilan setelah kelompok ekstremis itu mengaku telah mengeksekusi mati salah seorang warganya di Suriah.

Pasca-kejadian itu, China kian memperketat keamanan serta mencurigai hal-hal yang berbau ISIS, termasuk toko di Kota Shenzhen yang diberi nama ‘ISIS’.

Karena menuai kontroversi, akhirnya Hong mengubah nama butiknya tepat setelah proses interogasinya selesai dengan Kepolisian China. Menurut Hong, kemungkinan butiknya yang bernama ISIS itu tidak bagus untuk bisnisnya ke depan.

Aksi Balas Dendam Rusia, 39 Pebisnis Turki Ditangkap




MOSKOW – Rusia telah memulai aksi balas dendamnya kepada Turki atas peristiwa ditembak jatuhnya jet tempur Sukhoi Su-24. Hal itu ditandai dengan tindak penangkapan 39 pebisnis Turki yang ketika itu akan menghadiri konferensi industri agrikultur di wilayah Krasnodar, Selatan Rusia.

Puluhan pengusaha Turki itu ditangkap di wilayah Krasnodar oleh petugas Layanan Migrasi Rusia ketika akan menghadiri konferensi industri agrikultur, karena masuk Rusia dengan menggunakan visa turis, bukan visa bisnis.

“Jika memasuki Federasi Rusia untuk kegiatan bisnis atau alasan komersial, maka harus menggunakan visa khusus, bukan visa turis. Karena puluhan pebisnis Turki itu tidak bisa menunjukkan visa bisnis, maka kita tahan sementara,” ujar Wakil Kepala Layanan Migrasi Krasnodar, Vartan Ter-Saarkya, sebagaimana dikutip Telegraph, Jumat (27/11/2015).

Sementara itu, Kementerian Pertanian Rusia pada hari ini telah mengumumkan untuk mengontrol ketat impor pangan dan pertanian dari Turki. Pengumuman itu muncul di situs Kementerian Pertanian Rusia.

”Akan ada pemeriksaan tambahan di perbatasan dalam menanggapi apa yang dikatakan sebagai pelanggaran berulang standar Rusia oleh produsen Turki,” demikian pernyataan Kementerian Pertanian Rusia.

Menteri Pertanian Rusia, Alexander Tkachev, mengatakan bahwa sekira 15 persen dari produk pertanian Turki gagal memenuhi standar Rusia.

Tindakan yang dilakukan Pemerintah Rusia ini dinilai sebagai aksi balasan atas peristiwa ditembak jatuhnya jet tempur Su-24 oleh Angkatan Udara Turki.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, menolak minta maaf kepada Rusia atas penembakan pesawat jet tempur Su-24 Rusia di perbatasan Suriah-Turki. Erdogan mengatakan, insiden itu karena kesalahan jet tempur Rusia yang melanggar wilayah udara Turki.

Namun, Rusia telah menyangkal tuduhan itu. Dubes Rusia untuk RI, Mikhail Galuzin menegaskan, pesawat tempurnya itu dari awal hingga ditembak jatuh berada di wilayah Suriah dan sebelumnya sedang melakukan operasi militer terhadap kelompok ISIS di sana.

Turki dan Rusia Telah Berseteru dalam Selusin Perang



HUBUNGAN Rusia dan Turki kembali tegang setelah jet tempur F-16 Turki menembak jatuh pesawat bomber Sukhoi Su-24 milik Rusia. Otoritas Turki beralasan pesawat Rusia tersebut melanggar wilayah udaranya dan tidak juga berbalik setelah diberi peringatan.

Pemerintah Rusia murka dengan kejadian yang mereka sebut sebagai kejahatan itu dan merespons dengan mengirim kapal perang dan sistem antipesawat ke Latakia yang menjadi basis operasi pasukannya di Suriah. Eskalasi hubungan kedua negara bahkan dikhawatirkan akan meningkat menjadi konflik bersenjata.

Turki dan Rusia ternyata memang jarang sekali akur sejak kedua mulai berhubungan ratusan tahun lalu. Tercatat, sejak Turki dikuasai Kekaisaran Ottoman, kedua negara telah berhadapan dalam setidaknya selusin perang.

Kekaisaran Ottoman Turki yang dipisahkan dengan Kekaisaran Rusia oleh Laut Hitam dan Persemakmuran Polandia-Lithuania berambisi memperluas kekuasaannya. Langkah yang sama juga dilakukan oleh Rusia sehingga menimbulkan Perang Russo-Turkish yang pecah pada 1568 sampai 1570 dan berakhir dengan kemenangan Rusia.

Perang antara dua kekuatan itu kembali pecah pada 1676 yang diakhiri dengan gencatan senjata 20 tahun yang disetujui pada Perjanjian Bakchisarai, 1681. Namun pada 1686, Rusia bergabung dengan koalisi Eropa yang beranggotakan negara-negara anti-Turki seperti Habsburg, Austria, Polandia, Lithuania, dan Venezia serta mengkhianati perjanjian tersebut menyebabkan pecahnya perang Russo-Turkish yang ketiga.


Setelah perang ketiga berakhir pada 1700, kedua belah pihak kembali terlibat dalam enam perang besar Rusia-Turki lain antara 1710 sampai 1829 yang sebagian besar dimenangkan oleh Kekaisaran Rusia.

Pada 1853, Kekaisaran Ottoman, Inggris, Prancis, dan Sardinia yang tidak menginginkan Rusia memperluas kekuasaannya bertemu dalam Perang Krimea. Dalam perang ini, Rusia mengalami kekalahan dan harus menyetujui Perjanjian Paris pada 1856 yang melarang adanya kekuatan militer Rusia di Laut Hitam.

Kekaisaran Rusia kembali meraih kemenangan dalam perang Russo-Turkish yang terjadi pada 1877 di Balkan dan Kaukasus sebelum kembali berhadapan dalam Perang Dunia I yang sekaligus mengakhiri konflik antara dua kekaisaran besar itu.

Revolusi Bolshevik yang menggulingkan kekaisaran Rusia pada 1917 mengakhiri partisipasi negeri itu dalam Perang Dunia I, nasib serupa dialami Kekaisaran Ottoman yang mengalami kekalahan dan dibubarkan oleh Gerakan Turki Muda pimpinan Mustafa Kemal Attaturk enam tahun kemudian.

Menghilangnya dua kekaisaran ini memunculkan dua negara baru, Turki dan Uni Soviet yang mulanya memiliki hubungan yang hangat dan bersahabat. Namun, kedekatan Turki dengan pihak Jerman pada Perang Dunia II dan dengan Amerika Serikat (AS) pada masa Perang Dingin mengubah situasi itu. Bergabungnya Turki dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (North Atlantic Treaty Organization/NATO) menyebabkan kedua negara kembali berada di pihak yang berseberangan.
⬆
Top
Selamat Datang di Seputar Indonesia Maju, kami memberikan berita seputar indonesia terkini secara lengkap dan update, kritik dan saran silahkan kirim ke ceritaterbaru10@gmail.com