ads

.

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Cak Asmo, Berawal dari Gerobak Dorong Jadi Pengusaha Restoran


 Cak Asmo merantau ke kota yang merupakan ikon pariwisata Indonesia itu (Bali) sejak tahun 1992 dengan satu tujuan, yaitu mencari nafkah. Pekerjaan pertamanya di Bali hanyalah membantu sang kakak berjualan mie dan nasi goreng dengan menggunakan gerobak dorong. Bekerja bagi sang kakak selama 6 bulan, pria yang hanya lulusan SMA itu akhirnya diberi sebuah Gerobak oleh sang kakak agar ia bisa berjualan sendiri.

Cak Asmo yang juga berjualan nasi goreng memilih untuk menjajakan dagangannya di depan kampus Udayana Sudirman Bali, sehingga yang membeli nasi gorengnya rata-rata adalah mahasiswa. Bermaksud mengembangkan usaha Asmo kemudian berpindah tempat, yaitu berjualan di depan sebuah toko. Sayang, keadaan tersebut tidak berlangsung lama karena posisinya hanya menumpang tempat, ia pun harus merelakan tempat jualannya digusur.

Selain berjiwa pengusaha, sebagai seorang Kristiani Cak Asmo juga memiliki iman yang kuat. Dalam keadaan yang sulit, Cak Asmo selalu berdoa pada Tuhan agar diberikan kelancaran dalam pekerjaannya. Seminggu kemudian doanya terkabul. Rekan satu gerejanya tiba-tiba memberikan sebuah ruko secara gratis untuk digunakan Asmo sebagai tempat berjualan.

Kisah Sukses Cak Asmo, Dari Gerobak Dorong Jadi Pengusaha RestorantDari situlah karir Asmo mulai menanjak. Rumah makan yang didirikan pada tahun 2007 itu berhasil mencuri perhatian masyarakat Bali. Salah satu alasan dari cepatnya rumah makan Cak Asmo berkembang adalah selain rajin berdoa, ia juga selalu menghadirkan menu-menu baru di rumah makannya. Hingga akhirnya rumah makan kecil tersebut menjadi sebuah depot yang tiap harinya dipadati masyarakat Bali maupun wisatawan.

Sukses dengan depot yang pertama, Asmo membuka satu depot lagi. Ditengah pengembangan karir yang menanjak, ujian kembali menerpa bagi pria paruh baya ini. Depot keduanya yang baru saja dibangun ludes terbakar. Diterpa masalah besar, bukannya membuat Asmo putus asa, malah ia semakin berserah kepada Tuhan dan berusaha bangkit dari keterpurukan. Akhirnya iapun mampu membangun kembali depot yang kedua.

Cak Asmo, Dari Gerobak Dorong Jadi Pengusaha RestoranSalah satu kunci sukses dari depot Cak Asmo sendiri adalah penetapan harga yang terjangkau bagi semua kalangan. Dengan moto “Cita Rasa Bos, Kantong Anak Kost”, depot tersebut sukses menjadi salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi oleh para wisatawan dan masyarakat asli Bali. Bahkan beberapa orang berkata, “belum ke Bali namanya jika belum mengunjungi depot Cak Asmo”.

Meskipun telah sukses Cak Asmo tetaplah seorang pribadi yang rendah hati, Ia mengatakan bahwa kesuksesannya adalah datang dari Tuhan. “Jika bukan Tuhan, hidup saya tidak ada apa-apanya,” tambah Cak Asmo. Kini mantan pedagang nasi goreng ini sudah menjadi pengusaha sukses dan memperkerjakan lebih dari 60 orang karyawan.

Kisah Sukses Cak Asmo, Dari Gerobak Dorong Jadi Pengusaha RestoranSegala kesuksesan semua berawal dari “Mimpi, Kerja Keras, & Doa“. 3 unsur inilah yang membawa pria perantauan bernama Cak Asmo menjadi salah satu pengusaha restoran ternama di Bali. Dengan memakai nama restoran sesuai namanya, tempat makanan ini kini menjadi salah satu favorit masyarakat ataupun para wisatawan di Bali.


KISAH PENJUAL KERUPUK



=== kisah ini kami ambilkan dari status seorang teman ===

Saya : pak,krupuk berapa hrgnya?
Bpk : 3000 mas
Saya : beli 3 ya pak
Bapak itu berdiri dan meraba2 letak tas pinggang nya..
Saya : Astagfirullah... Ternyata bapak itu buta (‪#‎dlm‬ hati)

Saya liat bapak itu cm bengong. .

Saya : ini uangnya pak.
Bpk : 3 ya. Jd 9000
Saya : iya
Bpk : uangnya brp?
Saya : X0. 000
Bpk ; bntr ya kembalian nya

Bpk itu sibuk membongkar uang di tas nya..nyaris d kluar smua. .d tangannya

Bpk : Ambil saja mas kembaliannya.
Saya : Seketika itu sayapun terkejut mendengar perintah dari si Bpk.
Dlm hati, "gw kan cuma pengen tau gmn cara bpk itu balikin kembalian...ga serius ambil kembali nya..."

Saya : Lalu secara spontan saya bertnya kpd bpak itu.
pak. Klo saya kasih uangnya 2000 terus saya ambil kembali nya 10rb. Bpk kan ga tau. Trs nanti bpk rugi dong?
Bpk : Gusti Allah ga akan salah alamat kasih rejeki mas. Klo sekarang saya harus rugi, saya yakin Gusti Allah pasti lg nyiapin rejeki lain buat saya..
Saya : Subhanaallah, gemetar hati mendengarnya ‪#‎speechless‬ ������
bpk : udh ambil kembali nya?
Saya : ga usah pak.. hari ini. .Allah kirim rejeki untuk bpk..
Bpk : Terima kasih mas
Saya : sama2.. Bpk hati2 ya..

Sepucuk Surat Dari Jack Ma Kepada Putranya



Anakku.. Kutulis catatan pendek ini berdasarkan 3 prinsip:

1. Keberuntungan dan bencana dalam hidup ini tidak ada yang abadi, tidak seorangpun tahu mampu hidup berapa lama, ada sebagian hal sebaiknya dibicarakan sejak awal.

2. Aku adalah ayahmu, jika aku tidak mengatakannya padamu, maka tidak akan ada yang mengatakannya padamu.

3. Catatan kecil ini menuliskan pengalaman yang kudapatkan melalui sakit dan kegagalan, bisa menghindari jalan berputar dalam perjalanan pertumbuhan hidupmu.

Di bawah ini adalah hal-hal yang harus kau ingat baik-baik dalam hidupmu :

1. Janganlah terlalu mempedulikan orang yang tidak baik terhadapmu. Di seumur hidupmu, tidak ada seorangpun berkewajiban baik terhadapmu, terkecuali ayah ibumu. Terhadap orang yang baik kepadamu, haruslah senantiasa bersyukur dan menghargai.

2. Tidak ada orang yang tak tergantikan, tak ada benda yang wajib dimiliki. Ketika mengerti hal ini, kelak seandainya kau kehilangan semua yang berarti dan kau cintai, kau akan tetap akan memahami, ini semua bukanlah perkara besar.

3. Kehidupan ini begitu sementara, hari ini mungkin kita masih menyia-nyiakan kehidupan, esok hari barulah menyadari kehidupan telah jauh meninggalkan kita. Karena itu, hargai kehidupan sedini mungkin, hari-harimu menikmati kehidupanpun akan semakin banyak. Daripada mengharapkan umur panjang, lebih baik lebih dulu menikmatinya.

4. Cinta kasih hanyalah sebuah perasaan, dan perasaan ini akan berubah mengikuti waktu dan keadaan. Jika seseorang yang begitu kau cintai meninggalkanmu, bersabarlah menunggu sebentar, biarkan waktu perlahan membersihkannya, biarkan perlahan mengendap, rasa pahitnyapun akan perlahan-lahan menjadi hambar. Janganlah berlebihan mengharpkan keindahan cinta, janganlah juga berlebihan larut dalam sedih patah hati.

5. Meskipun banyak orang sukses yang tidak mendapatkan terlalu banyak pendidikan, bukan berarti tidak giat belajarpun bisa berhasil. Pengetahuan yang kau dapatkan adalah senjata yang kau miliki. Kita boleh membangun semua dari nol, tapi tidak dengan tangan kosong. Ingatlah baik-baik!

6. Aku tidak akan memintamu mengurus masa tuaku, sama halnya denganku yang tidak akan mengurus masa tuamu. Ketika kau dewasa dan mandiri kelak, kewajibanku selesai. Selanjutnya apakah kamu naik kendaraan umum atau mercedez benz, menyantap sirip ikan atau bihun, semuanya harus kau pertanggung jawabkan sendiri.

7. Kamu boleh menuntut dirimu untuk menjaga kepercayaan, tapi tidak dapat menuntut orang lain melakukan hal yang sama; kamu boleh menuntut dirimu berbuat baik kepada orang lain, namun jangan mengharapkan orang lain baik terhadapmu; bagaimana kamu memperlakukan orang lain, bukanlah berarti mereka akan memperlakukanmu sama, jika kamu tidak memahami ini, hanya akan menambah beban yang tak perlu dalam hidupmu.

8. Aku membeli lotre selama 26 tahun, bahkan hadiah ke-3pun tak pernah aku dapatkan, membuktikan kemakmuran hanya dapat dihasilkan dari giatnya bekerja, tidak ada kekayaan yang turun dari langit.

9. Keluarga hanyalah ikatan jodoh satu kali, berapa lamapun aku dan kamu akan bersama, kamu tetap harus menghargai setiap waktu kebersamaan, di kehidupan selanjutnya, apakah kita saling mencintai maupun tidak, tetap tidak akan berjumpa lagi.

Kisah Jual Celana Dalam Grosir bisa Untung hingga 200%



Jangan heran jika Anda mendengar kisah sukses seseorang hanya karena ia berjualan Celana Dalam. Anda salah jika Anda menganggap remeh bisnis yang satu ini, karena dari bisnis grosir celana dalam saja seorang mahasiswa pun mampu untuk membayar biaya kuliahnya sendiri. Keuntungan yang didapat dari bisnis ini cukup signifikan asalkan Anda mampu mengelola dan mengembangkan menjadi bisnis yang ‘serius’.

Pembelian pakaian dalam khususnya untuk celana dalam dalam partai besar sudah tentu akan memperoleh harga yang bisa membuat Anda terkejut dengan perbedaan harga yang bisa menghasilkan profit hingga 200%, tergantung dari cara Anda mengelolanya. Pengelolaan di sini adalah perhitungan biaya produksi seperti pengemasan hingga perhitungan keuntungan. Misalnya, Anda membeli celana dalam Rp. 2000 per buah lalu Anda menjualnya dengan harga Rp. 10.000. Dan kenyataannya setiap konsumen minimal membeli 3 buah celana dalam dalam satu transaksi, silahkan Anda hitung sendiri keuntungan yang didapat hanya dari bisnis grosir celana dalam.

Jika Anda bersungguh-sungguh untuk bergelut dalam bidang penjualan produk seperti celana dalam. Anda cukup memikirkan bahwa barang yang Anda jual adalah sesuatu yang memang dibutuhkan oleh semua orang dan bukan merupakan hal tabu yang tidak layak untuk ditawarkan kepada orang lain. Saat ini kita semua sudah ada pada zaman keterbukaan, dengan adanya teknologi orang akan semakin memiliki pikiran yang terbuka dan tidak hanya berpikir bahwa celana dalam ada dalam lingkup pribadi. Jika sekeliling Anda masih tabu dengan hal seperti ini, jadikan hal ini sebagai ‘senjata’, dengan demikian Anda tidak akan memiliki banyak pesaing.

Tentukan target lokasi pemasaran Anda, Anda akan berjualan secara offline atau online (melalui sosial media, forum, e-commerce website). Misalnya, Anda memutuskan untuk berjualan secara offline. Carilah kawasan yang sekiranya bisa menerima apa yang Anda jual, tidak mencibir atau menolak keberadaan toko Anda. Masyarakat yang bersifat heterogen dan memiliki pola pikir terbuka akan lebih mudah bagi Anda untuk menawarkan produk celana dalam kepada mereka.

Jika Anda memilih untuk berjualan secara online, akan lebih menghemat biaya pengeluaran karena Anda tidak harus menyewa sebuah kios. Yang Anda perlukan hanyalah sebuah keeksisan di dunia maya seperti sosial media dan forum. Namun, aturlah waktu promosi Anda, terlalu sering berpromosi pada satu forum Anda bisa dianggap sebagai ‘spam’.

Buatlah nama toko yang bisa menarik perhatian, jangan menciptakan nama yang sulit diingat. Brand yang Anda ciptakan secara tidak langsung akan menentukan kesuksesan penjualan grosir celana dalam Anda.

Pemasaran bisnis Anda bisa dengan menggunakan beberapa brand celana dalam seperti Victoria Secret, Wacoal, atau La Senza yang paling sering diminati oleh para wanita saat memilih pakaian dalam. Perusahaan tidak akan menuntut atas pemakaian brand untuk promosi, karena secara tidak langsung promosi yang Anda lakukan pun turut menaikkan brand mereka dan Anda pun membelinya secara grosir. Pembeli celana dalam di Indonesia sebagian besar masih mementingkan brand, karena mereka percaya brand yang terkenal sudah pasti memiliki kualitas yang baik walau pun harga yang ditawarkan tergolong mahal.

Kisah Sukses Rusdi Raisa, Modal Kecil omzet Ratusan Juta

Rusdi Raisa 27 tahun, Seorang Pria asal Garut ini memulai bisnis pada 2006 ketika duduk di tingkat awal kuliah di Universitas Islam Bandung. Ia berpikir untuk mencari uang tambahan sebagai uang jajan di kampus. Kemudian terbetiklah usaha aksesori dari kulit. Alasannya sederhana, karena dia memang penggemar aksesori dari kulit.
“Waktu itu modal awal saya Rp 50 ribu. Saya beli limbah kulit 2 kg seharga Rp 20 ribu. Sisanya yang Rp 30 ribu saya pergunakan untuk membeli lem dan perlengkapan produksi lainnya,”
Kulit yang dibeli adalah kulit limbah dengan potongan kecil, maka Rusdi harus memutar otak agar kulit tersebut tetap bisa dijadikan kerajinan dengan jumlah yang banyak. Akhirnya dia memutuskan membuat tempat ponsel. Dari 2 kg limbah kulit tersebut, dia berhasil membuat 70 tempat ponsel.
Bermodal keterampilan yang dia dapat dari teman-temannya para pengrajin kulit, dia membuat tempat ponsel yang unik dan tidak ada di pasaran yaitu membuat tempat ponsel dengan jahitan kulit, bukan jahitan benang.

Ketika dibawa ke kampus, ternyata banyak teman-temannya yang menyukai produk buatan tangan Rusdi. Rusdi menjual per buah tempat ponsel tersebut seharga Rp 50 ribu. Hebatnya semua barang dagangannya laku.

Memulai bisnis dengan modal cekak, hanya Rp 50 ribu ketika membangun brand D’Russa, namun kini omzet bisnisnya hingga Rp 250 juta/bulan.
Kisah Sukses Rusdi Raisa D RussaDari modal Rp 50 ribu tersebut dia mendapatkan keuntungan lebih dari Rp 2 juta. Dari situ Rusdi mengembangkan usahanya ke produk yang lebih mahal untuk mencari keuntungan lebih besar. Dia kemudian mengganti produksi tempat ponsel menjadi jaket kulit dengan harga jual Rp 650 ribu per jaket.
Usahanya makin bertumbuh dengan usaha jaket ini. Suatu hari di tengah produksi jaket, ada seorang pemesan yang ingin membuat tas di tempatnya.
Setelah pesanan pertama tersebut, ternyata banyak orang menyukai model tas D’Russa karya tangannya. Pesanan tas pun mengalir mengalahkan produksi jaket. Sejak 2009 Rusdi memutuskan untuk fokus pada produksi tas. Ia bisa lebih banyak mengeksplorasi model tas dibanding dengan model jaket.
Nama D’Russa merupakan kependekan dari namanya sendiri yaitu Rusdi Raisa. Kata awal nama depannya dan kata akhir nama belakangnya jika digabung menjadi Russa. Agar terlihat keren ditambah D’ di depannya. Dari situlah nama D’Russa kemudian menjadi brand yang berhasil dikembangkan oleh Rusdi.
Saat ini Rusdi memiliki 23 karyawan dan separuhnya (12 orang) adalah tenaga produksi. Dengan jumlah karyawan tersebut Rusdi bisa memproduksi sekitar 250 tas, 500 dompet dan 50 sepatu dalam sebulan.

Produk tas dijual dengan kisaran harga Rp 650 ribu-Rp 4 juta, sepatu Rp 650 ribu-Rp 2,5 juta dan dompet Rp 250 ribu-Rp 650 ribu. Setiap bulannya Rusdi bisa meraup omzet kurang lebih Rp 250 juta.

Apa yang diraih Rusdi adalah sebuah proses panjang dari usaha yang dibangun dengan modal sangat terbatas. Tentu tak hanya berisi kisah manis ketika membangunnya.
Rusdi mengaku belajar banyak dari setiap kesalahan sehingga dia bisa membesarkan usahanya seperti sekarang. Saat ini D’Russa sudah memiliki 1 toko-kantor di Bandung, dua buah toko di Jakarta dan sebuah bengkel di Garut.

“Mimpi saya nanti bisa membuka toko di Bali dan kemudian Australia,” kata Rusdi.
Salah satu cerita pahit untuk mencapai titik ini adalah bagaimana mengukur kemampuan diri. Pernah Rusdi mendapat order pembuatan tas dari sebuah bank daerah. Dia pun langsung menyanggupi, meski waktu itu jumlah pesanan cukup banyak dan waktu terbatas.
Ternyata waktu yang ditentukan tidak mencukupi untuk menyelesaikan jumlah pesanan tersebut. Akhirnya produksi D’Russa tidak lolos kontrol kualitas dan pihak bank hanya mau membayar 30% dari jumlah yang seharusnya dibayar.

“Waktu itu saya rugi lumayan besar dan harus jual motor untuk menutupi ongkos produksi,” kata Rusdi.

Dari kasus tersebut Rusdi lebih berhati-hati dalam menyanggupi pesanan konsumen. Bila memang dia tidak mampu mengerjakan pesanan tersebut maka dia akan menolaknya. Salah satu proyek yang ditolak oleh Rusdi adalah pesanan 22 ribu tas dari Jepang, meskipun jumlahnya menggiurkan. Dia berpikir bengkel produksinya yang semua dilakukan secara handmade tak akan mampu menyelesaikan pesanan tersebut dalam waktu yang ditentukan.

Dari pengalaman pahit tersebut Rusdi sekarang menjalankan usahnya dengan lebih tenang. Tak mau memaksakan diri meskipun laba yang bakal didapat terlihat menggiurkan. Semua harus kembali kepada kemampuan perusahaan dan staf yang mendukungnya.

Dari interaksi dengan pelanggan juga Rusdi terus meningkatkan layanan. Salah satunya tentu saja perbaikan kualitas produk. Dengan produk yang semakin baik, D’Russa berani memberikan garansi dengan rentang masa 1-5 tahun.


Kisah Sukses H. SIMIN Seorang Tukang Sate Keliling



“Sate, Sate….Sate” Suara khas penjual sate memang akrab di telinga warga Jakarta. Dengan gerobak, mereka biasanya berkeliling menjajakan dagangannya ke kompleks perumahan warga Ibu Kota. Sebagian dari mereka berasal dari Pulau Madura. Untuk menandakan warga asli Madura, di gerobak mereka lazim tertempel tulisan: sate madura. Pulau Madura dengan segala kekhasannya memang dikenal memiliki masyarakat pekerja keras.

H SIMIN berhasil menaklukkan angkuhnya Ibu Kota, Jakarta. Dia memulai usaha jualan sate dengan gerobak keliling hingga merambah hotel berbintang.

Berjualan sate hingga ke luar daerah, menjadi pebisnis barang-barang bekas dan tukang cukur adalah beberapa mata pencaharian yang ditekuni warga Madura. Tak terkecuali H Simin. Pria kelahiran 1965 tersebut adalah satu dari beberapa warga Madura yang menggeluti usaha sate.Kisah H Simin menjadi pedagang sate bermula pada sekitar tahun 1980- an saat dia hijrah dari kampung halaman mengikuti jejak kedua orang tuanya. Orang tua H Simin seorang pedagang sate.Ketika sampai di Jakarta, H Simin pun mau tak mau membantu orang tuanya berjualan sate di Jalan Bangka, Jakarta Selatan. Sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, H Simin mengaku tak sungkan membantu kedua orang tuanya.

Malah, dia merasa senang karena bisa meringankan beban kedua orang tua meski waktu itu tugasnya hanyalah membuat tusuk sate, membeli bumbu keperluan untuk membuat sate, dan tugas lain.“Apa pun yang disuruh orang tua pada waktu itu, saya menurut saja,” ujarnya. Cukup lama H Simin turut membantu jualan sate kedua orang tuanya. Hingga pada 1993, dia memberanikan diri untuk membuka usaha sendiri. Menjadi mandiri bukan urusan mudah bagi sosok pekerja keras ini. Orang tuanya sempat tak setuju anaknya membuka usaha sendiri lantaran merasa menjadi pedagang sate itu memerlukan modal yang tak hanya materi, melainkan juga keuletan. Meski begitu H Simin tetap pada pendiriannya. Dia ingin lepas dari bayang-bayang orang tua. Bermodalkan seekor ayam, dia pun mulai berkeliling Jakarta menjajakan dagangannya.

Sejak itu, H Simin berusaha menjadi sosok mandiri. Menjadi seorang yang dapat berdiri di atas kaki sendiri ternyata tidak semudah membalik telapak tangan. H Simin yang selama ini nyaman dengan tugas membantu orang tuanya harus menemui kenyataan bahwa dia harus mencari penghasilan sendiri. Di sinilah pesan orang tuanya benar-benar dirasakan. Berjualan sate tak hanya butuh modal materi, melainkan juga keuletan. Ya, karena awal-awal berjualan, H Simin merasakan betul cobaan berat. Dagangan tidak laku setelah kaki lelah melangkah, suara hampir habis untuk menjajakan sate dagangannya. Namun, H Simin tak berputus asa.Gagal di hari pertama dia mencoba hari kedua.Begitu seterusnya hingga dia mulai mendapatkan pelanggan.

Keyakinan H Simin dipertebal dengan rasa dan kualitas sate buatannya. “Saya mencuri ilmu dari orang tua,” katanya tentang racikan bumbu satenya sehingga mampu menghasilkan cita rasa khas. Alhasil, sate dagangannya mulai mendapat tempat di sebagian besar pelanggan. H Simin pun mulai mantap dengan jalan hidupnya. Apalagi sejalan dengan waktu, berkah didapatkannya. Dia mendapat fasilitas kredit kemitraan dari Bank Negara Indonesia (BNI) sebesar Rp40 juta untuk membuka warung di kawasan Warung Tenda 46, sebuah kawasan pedagang kaki lima yang dibina Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Pusat dan BNI. Kegiatan berkeliling Jakarta mendorong gerobak pun beralih dengan berjualan di warung tenda.

Sejak mangkal di Warung Tenda 46, harum dan lezatnya sate H Simin mulai dikenal. Dari mulut ke mulut, kelezatan sate buatan Simin menggiring warga Ibu Kota berduyun-duyun mendatangi warung tendanya. Apa sebenarnya yang membuat sate kambing dan sate ayam buatan H Simin menjadi santapan favorit? Selain menjaga kebersihan masakan, dia mematok harga yang terjangkau, yakni Rp12.000 untuk sate ayam dan Rp15.000 sate kambing.Yang tak kalah penting, sate buatan H Simin dijamin halal lantaran kambing maupun ayam dipotong dan diolah sendiri. Hal lain yang membuat sate H Simin memiliki cita rasa khas adalah racikan bumbunya. Racikan bumbu resep keluarga menjadi kuncinya. Selain itu,H Simin juga memanfaatkan pengetahuan yang pernah dia dapat saat mengikuti pelatihan pembuatan sate. Misalnya saja, sate tidak dibakar dengan menggunakan arang kayu, melainkan memakai arang batok kelapa seperti yang biasa dipakai membuat steak.

“Rasanya juga menjadi lebih enak,” katanya. Dari pelatihan tersebut, H Simin ternyata mendapatkan bekal tambahan lain. Dia jadi tahu teknik memilih daging sate,termasuk mengetahui tempat dan alat-alat pembuat sate yang memenuhi standar hotel berbintang. Bekal pengetahuan tata cara membuat sate yang memenuhi standar hotel berbintang turut melambungkan penjualan satenya. Seiring kemampuan mengolah sate bercita rasa hotel, dia pun mulai mendapat pesanan dari kalangan hotel, selain dari pesta. Pesanan dari hotel pun turut mengangkat omzet penjualan. Omzet yang diraih dari pesanan (hotel maupun pesta di tempat-tempat lain) dalam sebulan rata-rata mencapai Rp100 juta.Adapun dua warungnya bisa menghasilkan penjualan hingga Rp60 juta per bulan.

Dari penghasilan tersebut,menurut pengakuan Simin, 40% adalah penghasilan bersih setelah dipotong berbagai macam biaya, termasuk untuk menggaji karyawan sebanyak 15 orang. Dari pendapatannya itu, H Simin bisa menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. “Syukur alhamdulillah, dari merintis usaha sate kini saya bisa seperti sekarang, termasuk dapat menyekolahkan anak hingga bangku kuliah,” tutur pria yang masih turun langsung melayani pelanggan meski terhitung telah sukses, saat ditemui di rumahnya di Jalan Jatibunder, Kebon Melati, Tanah Abang. Ada alasan mengapa H Simin sampai sekarang masih mau turun tangan melayani pelanggan. Utamanya adalah untuk tetap menjaga mutu. Maka, dia pun masih terlibat langsung mulai dari memilih ayam dan kambing di pasar hingga mengawasi proses memasak. Bahkan,dia selalu mengantarkan pesanan pelanggan dan menunggu hingga masakan buatannya dihidangkan. “Supaya tidak ada komplain,” terangnya.

Semua itu dilakukan H Simin juga untuk menjaga hubungan kekeluargaan dengan karyawan. Agar tak ada jarak antara bos dan bawahannya. Hanya saja, bisnis H Simin bukan tanpa kendala. Selain persaingan yang semakin ketat, H Simin juga sedikit mengalami kesulitan atas beberapa hal, terutama soal pembayaran yang dilakukan pihak hotel. Pembayaran dari hotel yang menjadi pelanggannya dilakukan sebulan sekali sehingga kalau sedang banyak permintaan, usahanya kerap kekurangan modal. Meski demikian, seperti wirausaha lain, H Simin juga punya keinginan agar usahanya lebih maju lagi. Salah satu cita-citanya adalah membuka restoran.

Dia yakin, kalau terlaksana, restorannya akan laris.Apalagi ia telah memiliki pelanggan dari sejumlah hotel berbintang lima dan perusahaanperusahaan besar.

Kisah Sukses Andrie Wongso sang Motivator No. 1 di Indonesia



Siapa yang tak kenal akan sosok Andrie Wongso, the number one motivator di Indonesia?

Jalan sukses seorang Andrie Wongso bukan merupakan kisah yang mudah diceritakan dalam sekejap. Dilahirkan dengan segala keterbatasan ternyata tidak membuat Andrie Wongso menyerah. Keterbatasan itu bukan merupakan batu sandungan, justru menjadi batu pijakan untuk bangkit dan melangkah menuju sebuah kehidupan yang lebih baik.

Lahir di kota sejuk Malang, Andrie Wongso kecil hidup dalam keterbatasan finansial. Usia 22 tahun hijrah ke Jakarta karena mendapat panggilan kerja sebagai seorang salesman di sebuah perusahaan sabun. Pekerjaan sales ini cukup memberinya waktu lowong, yang diisinya dengan berlatih kungfu. Kungfu bukan sekedar bela diri, namun juga mengandung nilai-nilai kedisiplinan, tanggungjawab, komitmen, perjuangan dan kemauan keras. Nilai-nilai luhur ini semakin membentuk jati diri Andrie Wongso. Selain itu, ketegaran orang tua Andrie dalam menghadapi kemiskinan juga berperan besar dalam pembentukan karakter dirinya.

Ketika film-film kungfu Hongkong mem-booming di tahun 70-an, hati Andrie muda tergelitik ingin menjadi seorang bintang film. Untuk menggapai cita-cita ini, tahun 1978 Andrie berhenti bekerja dan mulai mengirimkan lamaran ke perusahaan-perusahaan film di Hongkong. Namun selama tiga bulan tak ada satu pun perusahaan film yang memanggilnya. Masa-masa itu merupakan masa yang berat bagi Andrie muda. Ia mengalami tekanan mental yang luar biasa. Tekanan hidup yang dialaminya ternyata tidak berhenti di situ saja. Pada saat bersamaan, salah satu orang tuanya meninggal. Bukan hal yang mudah bagi kita untuk membayangkan, apalagi menghadapi derita yang dialami Andrie Wongso. Andrie muda pulang ke Malang. Pada tahun 1979 kembali ke Jakarta untuk mengadu nasib. Kali ini Andrie tampil sebagai seorang pelayan toko yang hanya melayani pembeli tetapi tidak bisa masuk ke dalam toko, alias setengah kuli.

Untuk mengisi waktu luang, Andrie muda yang semakin beranjak dewasa mendirikan sebuah perguruan kungfu bernama Hap Kun Do. Hingga akhirnya penghasilan dari melatih kungfu yang diperolehnya lebih besar daripada gaji sebagai pelayan toko. Di sinilah kembali muncul impian untuk menjadi bintang film. Andrie lalu keluar dari pekerjaannya dan berlatih kungfu secara intensif selama dua minggu, kemudian mengirimkan foto dan surat lamaran ke Hongkong. Meminjam istilah orang awam, dewi fortuna ternyata masih tidak berpihak kepadanya. Tiga bulan hidup dengan tanpa penghasilan bukan hal yang mudah untuk dilalui, sebab itu ia berusaha untuk memotivasi diri sendiri. Tiga bulan kemudian, buah karma baik menghampirinya. Selama tiga tahun kemudian Andrie muda berhasil mewujudkan impiannya menjadi bintang film di Taiwan, meski bukan sebagai aktor utama.

Setelah tiga tahun menekuni profesi sebagai bintang film, Andrie kembali ke Indonesia dan mulai merintis jalan sebagai seorang pengusaha pembuat kartu ucapan. Tahun 1985 lahirlah Harvest. Pada awalnya bisnis ini tidak berjalan dengan mudah, berbagai macam penolakan dan hambatan selalu menghampirinya. Dimulai dari penjualan kartu secara keliling dari sebuah kamar kost, usaha tersebut berjalan sukses. Hingga saat ini Harvest telah memiliki beberapa perusahaan pendamping. Boleh dibilang Andrie Wongso sejak tahun 80-an telah menjadi seorang motivator karena produk Harvest pada awalnya berupa kartu berisikan ucapan motivasi yang kemudian berkembang menjadi produk-produk inovatif lainnya. Tahun 1992 adalah momentum bagi Andrie Wongso untuk terjun secara total dalam bidang motivasi dari hasil ‘pencerahan’ yang didapatkannya setelah mempelajari Buddhisme secara lebih mendalam.

Dalam bidang motivation training, Andrie menggagas sebuah pemikiran filosofis Action and Wisdom Motivation Training yang bersumber dari ajaran Buddha, yakni hukum tentang pikiran, hukum tentang perubahan dan hukum tentang sebab akibat. Filosofi terkenal dari Andrie Wongso adalah “Success is My Right” yang lahir enam tahun yang lalu. Pelatihan yang diberikan Andrie Wongso tidak terbatas hanya pada kalangan Buddhis, namun sudah merambah ke seluruh lapisan, baik perguruan tinggi, BUMN, perusahaan swasta, atlet dan lain-lain.

Kisah Sukses Sunarno, dari Pemulung menjadi Milyarder



Bapak Sunarno namanya, ia adalah mantan pemulung yang sekarang menjadi orang kaya berkat ketekunannya menjalankan bisnis MLM Forever Young Indonesia. Dulu ia mencari nafkah dengan mengais-ngais sampah. Kini ia jadi jutawan MLM karena mensukseskan orang lain.

Jangan sekali-kali meremehkan profesi seorang pemulung. Lewat bisnis MLM nya, pemulung ini bisa jadi jutawan. Setidaknya begitulah yang dialami Sunarno. “Saya sendiri tidak membayangkan, setelah menemukan usaha ini ternyata kok lebih cepat daripada rekan-rekan yang lebih mapan dan berpendidikan,” tutur pria kelahiran Solo, 5 Agustus 1961 ini. Tentunya berkat satu hal. Kerja Keras.

Prestasi yang diraihnya memang paling cepat dibanding yang lain. Hanya dalam kurun 27 bulan, ia berhasil menempati peringkat Senior Network Director, posisi tertinggi di Forever Young MLM. Jaringannya kini sudah lebih dari 100 ribu orang, tersebar di seluruh Indonesia. Seiring dengan itu, penghasilan di atas Rp15 juta per bulan, sepeda motor, mobil, rumah, dan berbagai bonus wisata ke luar negeri telah dinikmatinya.

Lantaran lahir dari keluarga miskin, Sunarno hanya bisa menamatkan SD. Lebih prihatin lagi, sejak kecil ia sudah yatim piatu. Terpaksa ikut orang ke beberapa kota, jadi kacung untuk sekedar bisa hidup. Tapi itu tidak lama dilakoni. Ketika kembali ke Solo, akhirnya ia memilih profesi pemulung. Kok jadi pemulung? “Saya bosan jadi kacung yang selalu disuruh-suruh orang. Jiwa saya ingin kebebasan,” jawabnya.

Tinggal di daerah kumuh yang berjarak 500 meter dari tempat pembuangan sampah. Pekerjaannya mengais-ngais sampah, mengumpulkan barang bekas. Plastik dan kardus jadi incarannya. Setiap hari ia bersama teman-teman menanti datangnya truk sampah. Begitu mobil pembawa rejeki tiba, mereka berlarian mendekat, lalu berebut barang-barang bekas – siapa cepat, dia dapat. “Apalagi yang namanya balung (tulang sapi). Itu ibarat emas bagi kami. Nilainya tinggi kalau dijual,” jelas ayah dua anak ini.

Ia sendiri pernah merasa amat bahagia sewaktu mendapatkan bonggol kubil (kol). Soalnya “benda berharga” itu didapatnya setelah mengalahkan beberapa saingan. Lewat “kompetisi” yang ketat ia berhasil mendapatkannya. “Hati saya bangga dan puas karena itu suatu prestasi,” katanya tersenyum. Ada satu hal lagi yang membahagiakan hatinya, yaitu saat menyetel radio tatkala masih hidup di kolong jembatan.“Sayangnya tak terkira, sama bahagiannya dengan orang naik Mercy atau Volvo,” tambah ayah tiga anak ini.

Sinar terang perubahan hidup mulai tampak pada 1994, ketika tetangganya memperkanalkan bisnis MLM. Hampir tiap hari tetangga sebelah bercerita, walau kadang-kadang ia tidak menangkap maksudnya. Maklum cuma lulusan SD. Jangankan ngerti, untuk hafal nama MLM yang berbahasa Inggris itu saja susah banget. “Seminggu belum hafal,” katanya tertawa. “Tadinya saya nggak mikirin. Tapi lantaran sering dengar dan lihat, lama-lama hafal juga.”

Kuncinya Yakin

Setelah belajar dan ditempa dalam berbagai training dan seminar, dalam hatinya timbul keyakinan. Mulailah ia menjalani bisnis MLM sepenuh hati. Pagi hari, sesuai profesi, ia cari barang-barang bekas. Siangnya, setelah
mandi, pergi memprospek orang.

Di usaha apa saja pasti ada tantangan. Sunarno pun begitu. Dibilang ngeyel atau mimpi, itu masih halus. Soalnya, ada yang mencercanya bagai cicak makan tiang. Namun itu tidak mengecilkan hatinya, sebab sejak kecil ia sudah terbiasa dengan kompetisi dan tantangan. “Itulah yang mendorong saya untuk maju. Orang gagal itu biasanya engga mau menghadapi tantangan. Kalau engga siap mental, yang paling mudah dilakukan adalah berhenti,” kata pria yang gemar bertani ini.

Menurut Sunarno, kunci keberhasilannya hanya satu: keyakinan. Sebab keyakinan itu seakan-akan kenyataan. Ia tumbuh dari penguasaan materi dan belajar dari orang-orang sukses. Bila ingin sukses, bergabunglah dengan orang-orang sukses, minimal ketularan. Motivasinya dalam berusahan sederhana saja: kalau orang lain bisa, kenapa saya tidak bisa. Pasti bisa!

Lucunya, dulu karena tinggal di tempat kumuh, sebagian orang belum mau menerima ajakannya. “Kalau kamu berhasil, baru saya mau ikut,” kata mereka. Namun setelah berhasil, Sunarno menagih janji. Mereka menjawab, “Lha iya, terang saja Pak Narno sekarang sudah berhasil kok.” Jadi lagi-lagi saya yang disalahkan,“ katanya sembari tertawa kecil. “Itu soal mental. Semua itu kembali ke pribadi masing-masing.”

Bila teringat kehidupan masa lalu, Sunarno masih diliputi rasa haru. Jadi ketika dapat fasilitas rumah dari MLM, Sunarno sengaja memilih di Mojosongo, daerah yang ia huni dulu agar tidak lupa pada sejarah. Tapi bila dulu orang meremehkannya, sekarang lain, “Kalau lingkungan butuh sesuatu, saya yang lebih dulu dimintai sumbangan,” ujarnya.

Kesan dan Pesan

Kehidupan itu, menurut Sunarno, ibarat tiada gelombang yang indah tanpa menerjang karang. Banyak orang mendambakan hidup aman, damai, tenteranm, bahagia dan sejahtera. Hidup seperti ini ideal sekali. “Bagi saya hidup itu sederhana saja, minimal kita punya cita-cita, yaitu sukses dalam segala bidang. Tapi untuk itu diperlukan tindakan, rencana, tujuan, komitmen, keyakinan, mengenal diri, dan cinta. Itu semua merupakan mata rantai yang tak terpisahkan.”

Sebelum berpisah, ia berpesan kepada rekan-rekan dalam jaringannya dan untuk semua orang pada umumnya agar tidak gampang menyerah, siap dikritik, semangat menyala-nyala, selalu berjuang, rela berkorban, dan berdoa. “Beranilah mengambil keputusan, karena keputusan itulah langkah awal sukses.”

Kesimpulan

Dari kisah hidup pak sunarno ini saya bisa mendapat pelajaran yg berharga.bahwa untuk meraih sesuatu yg kita harap kan kita harus terus berjuang untuk meraih apa yang kita ingin kan dan bahwa kita harus juga mengingat roda kehidupan itu juga berputar.
⬆
Top
Selamat Datang di Seputar Indonesia Maju, kami memberikan berita seputar indonesia terkini secara lengkap dan update, kritik dan saran silahkan kirim ke ceritaterbaru10@gmail.com